10 Year Anniversary Partner Feature – Nova Ruth

Aug 31, 2018

Saat aku remaja, dengan sahabat-sahabatku, kami membuka peta dan mimilih mimpi. Belahan dunia manakah yang ingin kami lihat. Aku menunjuk Jerman. Semata-mata karena Tanteku sedang menekuni bahasa jerman dan berkeinginan untuk hidup di sana. Dari kecil aku tidak pernah berubah pendirian. Keinginanku adalah menjadi seorang penyanyi.

When I was a teenager, together with my dearest best friends, we opened a map and chose our dream. Which part of the world would we want to see? My fingers pointed to Germany just because my aunt studied the language and would one day live there. And, from my childhood, I had never changed my mind. I wanted to be a singer.

Enam tahun di masa SD-ku, kupelajari tarian, nyanyian dan gamelan Jawa, seiring dengan eksplorasiku akan agama. Berpindah, dari agama Kristen ke Islam. Keseluruhan pengalaman tersebut, kesukaanku adalah ketika aku harus menyanyikan bait-bait gatra Jawa, menghadiri sekolah minggu dan menyanyikan lagu pujian, serta melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Pengalaman ini mengakar, menjadi ingatan dalam aliran darah meskipun lalu, aku mengenal lantunan-lantunan musik barat.

For six elementary school years I learned how to dance, sing and play gamelan from Jawa, along with my exploration of world religions. I converted from Christianity to Islam. My favorite part of my exploration was when I sang, either with Javanese music, in Sunday school, or when I had to recite Al-Qur’an. This experience rooted me and became a memory in my bloodstream even though later, in my next phase of life, I discovered Western music.

Aku lalu menulis sajak rap. Memakai pakaian ala musisi hip hop Amerika, namun tetap kusuarakan keresahanku atas kerusakan alam dan ketimpangan sosial. Terus dan terus, tanpa mengingat pelajaran-pelajaran masa kecilku yang berbudaya Jawa. Hip hop membawaku bergelar ‘indo female emcee’. Sejak itupun aku mulai berkenalan dengan musisi-musisi elektronik dari luar Indonesia.

Then I wrote rap lyrics. I wore clothes of American Hip Hop emcees, yet still my lyrics were all about environmental and social justice. I did it so much that I forgot about all of the beautiful Javanese culture and music I’ve learned in my childhood. Being in the Hip Hop scene gave me a title as an ‘indo female emcee’. Since then, I have constantly met international electronic musicians.

Seorang teman setelah perjalananku ke Australia memperkenalkan aku kepada musik Filastine. Mendengarnya, rasanya aku seperti ditampar keras-keras. Musisi asal Amerika ini membuat versi baru lagu-lagu dangdut dan melayu dari mana aku berada. Bahasanya pun bahasa Indonesia. Hatiku tergerak untuk berkenalan dengan pribadi tersebut. Gayung bersambut, kami akhirnya melewati perjalanan-perjalanan bersama sampai akhirnya kuperkenalkan padanya nada pentatonic Jawa.

A friend that I met on my first international trip to Australia, introduced me to Filastine’s music. I listened to those tracks and felt like I got a slap on my face, really hard. This American musician covered old dangdut and malay songs from where I came from. Even the language that used is Bahasa Indonesian. I had an urge to get to know this person. My intention was welcomed instantly and they brought me to tour together with Filastine’s project. One day I introduced him to Javanese pentatonics pieces.  

Beberapa kali kami berkarya bersama dan lagu-lagu bernada Jawa mulai terdengar di albumnya. Karya ini membawaku sering memijak tanah Eropa. Tanah yang kutunjuk saat aku melontarkan mimpiku ke angkasa di depan para sahabatku. Negara Jerman kujajaki beberapa kali. Budaya peradaban tua Eropa kuperhatikan dan amati. Kuunduh informasi dan pelajaran hidup, berkaca kepada cermin yang sama sekali berbeda dengan apa yang kulihat biasanya.

We worked together a couple of times and the Javanese tunes started to dominate Filastine’s album. This work brought me to step on the land of Europe. The land that I pointed when I threw my dream into the sky, witnessed by my best friends. I visited my aunt in Germany. I observed the European civilization, downloading information and a lot of lessons about life. I gazed upon a completely different mirror than I usually gaze into.

Kuhabiskan bertahun-tahun berada di Spanyol hingga mempelajari bahasanya. Kerinduan mendalam akan Jawa di antara kehancuran ekologi semakin kurasa. Lalu kuketahui bahwa di dunia barat ada sebuah teori jaman bernama Anthropocene. Jaman di mana manusialah yang mempengaruhi perubahan iklim dan lelehnya glasier di kutub utara serta selatan. Yang bisa membantu manusianya untuk bertahan dan mulai membuat perubahan, adalah kembali kepada kearifan lokal. Kucari lagi Jawaku, mendekati ari-ariku yang ditanam di bumi Malang.

I’ve spent a handful of years living in Spain and have learned the language. The deep longing of Jawa in between the collapsing ecology got much stronger than ever. The word anthropocene started to get introduced into my daily dictionary. The era when human activity is more dominant and influencing the climate and melting the glaciers. What could help humans survive and start to make a change? Going back to local wisdoms. I tried to find my ‘jawa’, to get closer to where the placenta that once connected me and my mother, was buried. Javanese believe that the placenta carries our spiritual brothers/sisters that guide us to go through our lives.

Banyak sekali kearifan lokal Jawa yang intinya adalah menggunakan budaya dan kebiasaan demi mempertahankan keseimbangan alam. Contoh kecil adalah ‘bersih desa’. Rakyat bersama-sama membersihkan seluruh desa dan membuat ‘tumpeng’ raksasa dari hasil bumi. Memang tidak baik untuk selalu menyalahkan para kolonial yang datang ke negaraku, namun aku juga berasa, bahwa budayaku perlahan dihilangkan sehingga kami lupa dan tak memiliki benteng kebudayaan lagi. Ritual-ritual persembahan dan berterima kasih kepada bumi masih tetap ada di desa-desa. Meskipun belakangan, ritual tersebut mulai sepi karena manusianya terlalu sibuk memikirkan perut.

There are many Javanese local wisdoms that use culture and custom for the sake of the natural balance. For example ‘bersih desa’. This is a ritual to clean the village and say thanks to mother earth by making a ‘tumpeng’, a mountain of offerings full of fruits and veggies from the last harvest season. To place blame on colonials that leave neo-feudalism is not always the answer. Yet, it felt so strong that this ancient culture was being wiped away to weaken the people of my country. Thankfully, these rituals still exist in the villages, although lately, the amount of attendance is shrinking. People are too busy filling their bellies and neglecting the local culture.  

Keinginanku untuk menemukan Jawaku kembali membuat mimpi acakku ke Eropa tersebut menjadi hal yang sangat mudah. Banyak yang kupelajari di negara yang notabene negara dunia pertama tersebut. Tentang energi terbarukan, tentang sistem perpajakan, tentang jalan khusus untuk sepeda, tentang kontrol jumlah kelahiran. Banyak juga kutemukan hal-hal yang kurang baik seperti kesopanan yang keterlaluan hingga menimbulkan batas antara teman, serta individualitas yang tinggi karena tuntutan standar ekonomi. Yang itu-itu, tak perlu kubawa pulang ke Jawa.

My intention to find my ‘jawa’ is way harder than realizing my random dream of Europe. There are so many things I have learned from my travels about renewable energy, the healthy tax system, bike lanes, and birth control. I also found many negative things such as an overly polite attitude that created an imaginary border between friends, and an acute sense individuality because of the ‘time is money’ habit. All of these things, I wouldn’t bring to Jawa.  

Di awal tahun 2017 aku mengatakan keinginanku kepada seorang sahabat, bahwa, aku ingin angin berhembus ke arah timur. Telah selesai penasaranku dengan dunia barat. Harapanku, tidak ada lagi segregasi negara dunia. Yang ketiga dapat menjadi kedua, yang pertamapun turun menjadi kedua. Di jaman anthropocene, keterbukaan dibutuhkan agar setiap negara dapat bekerja sama dan saling mendukung dalam memenuhi kebutuhan. Terdengar seperti utopia, namun jariku yang menunjuk peta tersebut ternyata melontarkan doa kepada semesta, sehingga aku dapat melihat apa yang ingin kusaksikan dengan dukungannya. Maka tak kuragukan lagi apa yang kujalani. Kembali kepada budaya dan kearifan tempat kelahiranku, adalah cara bertahan hidup di jaman ini. Bukan untuk menjadi chauvinis, namun untuk memiliki identitas diri dan berbudaya. Berbudi pekerti dan bertukar ilmu dengan negara-negara lain di dunia.

I mentioned my resolution of 2017 to one of my best friends. I want the wind to blow to the East. I have fulfilled my curiosity of the Western world. My hope is to have unsegregated world. The third world would became the second, the first would also became the second so then we would all be equal. It sounded like utopia, but my finger that once pointed a map, apparently throwing a wish far up to the universe, and with its support, I have seen what I once wanted to see. I won’t doubt my path. I consider going back to the culture and local wisdom from where I was born as a way to survive the anthropocene. I am taking on roles and exchanging good knowledge across countries and borders. 

Aku akan terus menyanyi. Melantunkan doa agar kita meleburkan batas, sehingga apa yang utopia, dapat menjadi kenyataan, agar bumi dapat melewati era anthroposen.

I will keep on singing. Reciting prayers to blur the borders, to shift the utopia to a reality, to help the mother earth move on from the anthropocene.